Minggu, 01 Desember 2013

Tak Ada Regenerasi, Batik Sukapura Terancam Punah


Tak Ada Regenerasi, Batik Sukapura Terancam Punah
Sejumlah pekerja membuat batik tulis di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kamis (5/1). TEMPO/Aditya Herlambang Putra


Gajah Oling, Motif Batik Khas Dari Banyuwangi 

Batik Sukapura, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, terancam punah. Penyebabnya bukan karena pengrajin kekurangan modal, tapi tidak adanya regenerasi perajin batik Sukapura.

"Dulu ada 50 perajin batik Sukapura, sekarang tinggal 13 pengrajin. Itu pun hanya home industri (industri rumahan)," kata Uun Kurniasih, salah seorang pelestari Batik Sukapura di sela acara Kreasi Batik Sukapura, di kantor Setda Kabupaten Tasikmalaya, Rabu, 26 Juni 2013.

Dia mengatakan minat remaja untuk menjadi pengrajin batik sangat minim. Mereka, kata dia, sibuk dengan kegiatannya sehari-hari dan sekolah. "Generasi muda tak ada yang mau membatik. Anak-anak zaman sekarang penginnya main hp dan nonton tivi. Tidak ada yang peduli," kata Uun.

Atas kondisi ini, dia mengaku sedih dan khawatir. Uun pun meminta pemerintah daerah mencari solusinya. "Saya butuh orang yang peduli terhadap batik Sukapura. Sekarang hampir punah batik Sukapura," Uun menjelaskan.

Menurut Uun, batik Sukapura memiliki ciri-ciri warna gelap dan bermotif tumbuhan. Batik ini bisa tahan lama dan warnanya tidak mudah luntur. "Bahan pewarnanya masih pakai kimia. Memang pernah ada pelatihan memakai pewarna alami, tapi belum dicoba, pengin yang praktis," jelasnya.




Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kabupaten Tasikmalaya, Nana Heryana, mengatakan selain faktor sumber daya manusia (SDM), kurangnya kreasi dari perajin batik Sukapura juga menjadi ancaman punahnya batik ini. "Dengan acara Kreasi Batik Sukapura, kami dan Diskoperindag memberi motivasi kepada perajin batik Sukapura agar berkreasi," katanya

Menurut Nana, perajin batik Sukapura masih memegang teguh pakem lama dan tidak berani membuat inovasi dan kreasi. Mereka tidak mau memakai warna yang sedang tren maupun memadukan warna. "Ini yang jadi kendala (dalam pemasaran batik Sukapura)," kata dia.

Namun demikian, menurut Nana, saat ini sudah ada sebagian pengrajin yang mulai berkreasi. Itupun jumlahnya belum banyak. "Memang pakem dan tradisi harus dipertahankan. Namun kami juga berharap muncul perajin-perajin baru dengan kreasi baru. Kreasi baru dengan tetap mempertahankan ciri khas batik Sukapura," tegas Nana.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Tasikmalaya, Lina Ruzhanul Ulum mengatakan, pihaknya pernah mengadakan pelatihan membatik khusus di Kabupaten Tasikmalaya. "Pelatihan untuk regenerasi perajin batik," kata dia.

Dalam pelatihan itu, pengrajin diberi pelajaran mengenai teknik pewarnaan kain batik. Dia mengakui, warna Batik Sukapura masih terkesan kolot dan kuno.

"Pada pelatihan kemarin, disampaikan agar perajin batik membikin warna tak monoton. Lihat batik kota (Tasik), berani main warna.

Akhirnya perajin batik Sukaraja mulai berani main warna. Pertahankan tradisi harus, tapi kejar pasar juga harus," Lina menjelaskan.

Upaya regenerasi lainnya, adalah memasukan pelajaran membatik ke dalam mata pelajaran muatan lokal (mulok) di sekolah menengah pertama. "Di SMPN Sukaraja ada pelajaran membatik," katanya.

Source : Tempo.CO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar